Football avatar 0

Selasa, 12 Jan '10 14:08

Jake Sully mulanya menerima tugas untuk menggantikan kakaknya dalam program Avatar melulu karena keterbatasan pilihan. Fisik yang tak sempurna sepulang dari medan pertempuran tak banyak memberi peluang hidup. Daripada hidup di atas kursi roda dan harus pensiun sebagai prajurit, tidak ada ruginya menerima tawaran masuk ke dalam tabung simulator untuk menjalankan mahluk hybrid yang bernama Avatar di negeri Pandora.

Begitulah awal plot film Avatar yang hari-hari ini masih diputar di sejumlah bioskop. Film fiksi ilmiah dengan setting pada tahun 2154 ini menggambarkan usaha ras manusia di masa depan untuk mengenal, berinteraksi, menguasai dunia lain yang dihuni habitat asli bernama suku Na'vi. Segala hambatan bisa diatasi dengan kecanggihan teknologi yang memungkinkan manusia memiliki "kembarannya" di alam lain hanya dengan menggabungkan pikiran ke dalam sesosok mahluk rekaan di dunia luar.

Dalam keadaan "tidur" di tabung simulator super canggih, Jake Sully yang diperankan oleh Sam Worthington lantas mampu menjalankan peran, fungsi, dan hidup baru. Dia bukan hanya bisa berjalan, tapi bahkan berlari, berburu, dan terbang mengarungi buasnya kehidupan Pandora - dibumbui aneka rupa rasa peristiwa layaknya kehidupan di dunia nyata.

Ide masuk dalam simulator untuk mengendalikan citra diri seseorang di alam lain mengingatkan saya pada keseharian seorang pelatih sepakbola yang bertugas menterjemahkan segala visi dan kemampuannya untuk membentuk sebuah tim yang kuat. Jika Jake Sully hanya bertanggungjawab pada sesosok citra diri, maka seorang pelatih harus mengendalikan minimal sebelas sosok yang diatur dengan fungsi dan perannya masing-masing dalam sebuah skema permainan sepanjang 90 menit. Lengkap dengan konflik dan segala masalah yang mengemuka sepanjang proses yang dibutuhkan - plus perlawanan keras dari avatar-avatar lain milik kesebelasan lain yang dihadapinya.

Keserasian antara visi sang pelatih sebagai pengendali dengan kemampuan para pemainnya lah yang akan menentukan hasil akhir pencitraannya di lapangan hijau. Itulah sebabnya kenapa ada sebutan pelatih gagal dan sukses. Itu juga yang menimbulkan pembedaan antara pelatih bertangan dingin dan berdarah panas. Yang satu sukses menciptakan harmoni, yang lain justru menuai masalah demi masalah yang berujung pada ketidaksesuaian target dengan realita.

Terlepas dari kontroversi pemecatan sepihak Mark Hughes oleh Manchester City, kehadiran Roberto Mancini terbukti mampu menghadirkan empat kemenangan beruntun bagi tim yang mengawali musim dengan sangat ambisius itu. Stoke City, Wolverhampton, Middlesbrough, dan terakhir Blackburn Rovers menjadi korban avatar-avatar Mancio - nickname Roberto Mancini - dengan total memasukkan 10 gol dan baru kebobolan 1 gol.

Paling tidak sampai partai keempatnya, Mancio mampu menterjemahkan visinya ke dalam tabung simulator Manchester City untuk menaklukkan buasnya persaingan English Premier League dan FA Cup. Sesuatu yang sepertinya belum bisa dijalankan dengan sempurna oleh Mark Hughes, pelatih yang digantikannya tiga pekan lalu. Meski telah diberi banyak bintang berkelas, City di bawah Hughes jarang meraih kemenangan. Nasib buruk yang tiba-tiba mendapat peruntungan baru saat Mancio dipercaya mengendalikan avatar-avatarnya.

Sama halnya dengan Frank Rijkaard yang entah kenapa tiba-tiba kehilangan kontrol atas Barcelona yang pernah dibawanya menjuarai Liga Champions dan La Liga pada musim 2005-06. Avatar-avatarnya yang begitu ditakuti di bawah kepemimpinan Ronaldinho kehilangan sentuhan ajaibnya dan kemudian terpaksa dilengserkan akibat dianggap gagal. Ketika tampuk kepelatihan diserahkan pada Joseph Guardiola, dengan cepat El Barca melesat menjadi tim terbaik dunia. Klub pertama yang meraih sextuple - enam piala dari enam kejuaraan yang diikuti dalam satu musim: La Liga, Piala Raja, Piala Super Spanyol, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Juara Dunia Antarklub!

Menjadi pelatih hebat adalah tentang kemampuan mengontrol sebuah tim, permainan, dan lawan. Kehebatan mereka terletak pada kesanggupan menterjemahkan visi ke dalam diri para pemain untuk mencapai target maksimal.

Itulah hidup yang sesungguhnya. Bukan bermain dalam fantasi di tabung simulator, tapi berkeringat di dunia nyata untuk membuat segala mimpi menjadi nyata.

* ilustrasi dicomot dari www.3B.net


Tag: Roberto Mancini, Mark Hughes, Frank Rijkaard, Josep Guardiola

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat