Bonek dan penganut idola specus 2
Rabu, 23 Des '09 09:19
Melihat kekerasan di dunia sepak bola, sungguh mengerikan. Bagaimana tidak hanya demi tim daerahnya mereka rela menjual semangat membunuh kepada tim lawan. Menjual semangat membunuh ini bahkan terhadap hal-hal sepele, misalnya salah ucap, atau salah melihat, bahkan salah tertawa. Tersinggung salah satu pemicunya. Bukankah hanya hal sepele dalam kehidupan di luar lapangan hijau?
Di dalam filsafat logika dikenal istilah idola specus, yaitu pikiran yang menyatakan bahwa dirinya sendirilah yang paling benar. Dengan perkataan lain, mengidolakan diri sendiri. Inilah yang terjadi pada para bonek. Mereka pikir tim kesayangan adalah yang terbaik, sehingga kalau sampai timnya kalah, pasti ada kecurangan, ketidakadilan, dan harus diluruskan.
Kalau perlu dengan kekerasan. Para bonek adalah penganut idola specus. Beda dengan hooligans, walau mereka pemabuk, tapi masih mengacu pada objektivitas dan taat aturan. Walau dongkol, mereka terima kenyataan sepanjang sesuai aturan. Masalahnya, idola specus ini bukan hanya terdapat di kalangan bonek, melainkan sudah jadi milik hampir seluruh bangsa. Bahkan para elite politik menambahkan satu idola lagi, yaitu idola tribus, yang artinya hanya mengidolakan kelompoknya sendiri. Maka itulah yang terjadi sekarang. Semua mau jadi wasit sendiri.
Mahasiswa mau jadi wasit, maka mereka turun ke jalan teriak-teriak, minta si ini dan si anu mundur dari jabatan tanpa mengetahui persis duduk persoalan. Politisi, pengamat, LSM dan pengacara berlomba masuk televisi untuk mengumbar wacana yang menurut dia sendiri benar. Kalau perlu bertengkar di depan kamera, bahkan pukul-memukul sambil masuk televisi pun jadi! Tim Delapan dan Pansus Angket Bank Century juga sama saja. Ketua Tim Delapan mengancam mundur kalau nasihatnya tidak ditaati Presiden. Ketua Pansus Idrus Marham sudah mengimbau jangan bersahut-sahutanlah di luar, supaya Pansus bisa bekerja objektif.
Tetapi di dalam Pansus sendiri para anggota tetap bersahutsahutan tanpa arah, dengan diliput penuh oleh media massa. Intinya semua beridola specus dan idola tribus. Sementara untuk meyakinkan orang bahwa dirinya atau kelompoknya yang paling benar, mereka tidak lupa untuk selalu membawa-bawa nama Allah dan juga rakyat. Demi Tuhan, Allah Akbar, diucapkan oleh semua pihak yang bertikai. Demikian juga semuanya menyatakan demi kepentingan rakyat. "Kalau kita tidak tulus", kata seorang anggota DPR, "biarlah rakyat yang mengadili".
Seakan-akan hanya merekalah wakil Allah dan wakil rakyat di republik ini. Nah, kalau Allah sudah diadu, rakyat diadu sesamanya, bahkan Allah diadu dengan rakyat, maka apalagi namanya kalau bukan mentalitas bonek?
(Kutipan dalam : Dunia Bonek)
Tag: Kerusuhan dan Rusuh
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
3-4-3: Informatif
-
garislembut: Playmaker
-
miss: Informatif
-
laporan bola: Total Football

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat