Mari Rangkap Jabatan 6

Jumat, 27 Nov '09 04:02

Seorang suporter Arema Indonesia mencak-mencak ketika membaca berita negosiasi antara pelatih Arema, Rene Roberts, dengan PSSI untuk jabatan direktur tehnik tim nasional Indonesia.

Dia menyebut manajemen Arema tidak becus kerja karena memberi pintu kepada Rene untuk mengambil jabatan di PSSI sekaligus tetap meracik Arema di Liga Super Indonesia.

Kasus ini bukan yang pertama. Pelatih tim nasional Indonesia, Benny "Bendol" Dollo, bahkan "nekad" turun kasta menjadi direktur tehnik Persija Jakarta.

Memegang jabatan ganda adalah hal biasa di sepakbola Indonesia. Coba silahkan periksa daftar pengurus klub di Indonesia. Isinya mayoritas orang pemda. Bahkan ketua umumnya pun pemimpin sebuah daerah. Bisa gubernur, bupati atau walikota. Di area tarkam; kepala desa, lurah dan camat pun bersedia menjadi manajer tim.

Atau mau yang lebih luas juga bisa. Ketua federasi olahraga di Indonesia sering dijabat oleh menteri, direktur jendral, atau kepala staf angkatan bersenjata. Suka-sukalah.

Dalam kasus Rene atau Bendol, profesionalisme terpaksa dilanggar. Sekali lagi, terpaksa. Mereka berdua bisa saja fokus di satu jabatan, tapi sebaiknya aliran dana untuk dapur ngebul juga harus lancar.

Gaji Rene untuk bulan Oktober kemarin tersendat dan baru setengah dilunasi oleh Arema. Sementara Bendol lebih parah. Gajinya yang sekitar Rp 50 juta per bulan kadang diterimanya per 2-3 bulan sekali. Belum lagi dana taktis untuk kegiatannya memantau pemain di liga.

Penyewa tenaga mereka mungkin saja tidak sepenuhnya salah. Uang untuk membayar gaji Rene dan Bendol memang tak ada. Minimal tidak mencukupi. Kalau tidak ada, bagaimana mau membayar.

Keuangan memang isu klasik di olahraga (sepakbola) Indonesia. Ironisnya, pengelola tim senang sekali melakukan kebijakan besar pasak dari pada tiang. Anggaran belanja digenjot meski sumur pendapatan tidak memungkinkan untuk itu.

Ini hanya masalah sikap profesional yang belum ada pada diri pengelola olahraga di sini. Kebiasaan bersikap amatiran dalam kehidupan dibawa ke ranah pro. Gali lubang tutup lubang menjadi praktek biasa.

Pada akhirnya yang kerepotan adalah tim. Pelatih masih bisa mencari jalan keluar dengan berusaha rangkap jabatan. Tapi bagaimana dengan pemain? Saya tak heran jika ada pemain di Liga Super yang punya kios pulsa ponsel atau membuka toko peralatan olahraga.

Jangan senang dulu direkrut tim besar Indonesia. Anda harus punya Plan B, bahkan C, sebagai tindakan antisipatif bila gaji anda seret dibayarkan klub. Jadi, silahkan rangkap jabatan atau status. Semua sah karena Liga Super Indonesia masih semi pro, bila tak mau dibilang amatir.

Image © CNN


Tag: Arema Indonesia, Pelatih, Rangkap Jabatan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

melkisedek bola 0 0
Saya membayangkan jika Bryan Robson jadi pelatih tim nasional Indonesia sekaligus jadi direktur teknik PERSIB.

Waw... ono captain marvell di Bandung

: ))
3-4-3 0 0
melkisedek bola: semoga Robson mau dibayar pake daun, emangnya Persib punya duit? : p
melkisedek bola 0 0
3-4-3: dibayar pake lady vikers wae lah, dijatah sak wulan 30 lady vikers : ))
tukangsemprit 0 0
Biasanya sih kalau merangkap jabatan identing dengan rangkap konsentrasi, fokus, dan beban. Artinya, kemungkinan besar tidak akan maksimal. Kecuali diemban oleh orang yang sangat luar biasa kemampuan, kapasitas, dan komitmennya.
3-4-3 0 0
tukangsemprit: guus hiddink pun gagal, rusia gagal ke piala dunia, walau ga mutlak banget ada kesalahan membagi fokus pada chelsea sebelumnya.
Der Kaiser 0 0
Ketua Umumnya saja merangkap Narapidana kok, anak buahnya ndak boleh rangkap !

Silahkan login untuk memberikan pendapat