Menulis Sepakbola 4

Selasa, 24 Nov '09 18:51

Saya sangat hobi bermain bola, juga pernah menjadi pemain bola. Saya bahkan pernah mengambil studi yang khusus berkaitan dengan sepakbola. Lalu saya sangat menyukai aktivitas tulis menulis, bahkan kini saya hidup dari menulis. 

Apa jadinya jika dua kesukaan saya itu digabungkan menjadi satu?

Menulis [tentang] sepakbola sebenarnya tak terlalu sering saya lakukan. Hanya di momen-momen tertentu, saat ada situasi khusus, juga saat saya didatangi oleh ide yang juga bagus. Sebagian diminta oleh editor-editor yang saya kenal, selebihnya datang dari inisiatif sendiri. Itu sebabnya sebagian terbesar catatan-catatan itu terpublikasikan di media massa, sisanya tersimpan rapi di folder pribadi.

Karena saya bukan wartawan, tentu saya tak menulis laporan pandangan mata. Amat jarang saya menulis review atau preview yang sifatnya melulu teknis. Saya, biasanya, mencoba menemukan hal-hal lain yang menarik dari sepakbola, sesuatu yang kadang tak ditemukan dari lapangan hijau, kadang tidak juga saya dapatkan dari 90 menit waktu pertandingan.

Itu bisa soal politik sepakbola, pusaran modal di dunia sepakbola, perihal bagaimana sepakbola menjadi sesuatu yang teramat vital bagi satu komunitas atau bangsa, atau bahkan melihat dan memperlakukan sepakbola sebagai alegori dari kehidupan yang sehari-hari kita jalani.

Saya, yang menghabiskan masa kecil dan remaja saya di lapangan bola, punya ikatan batin yang kuat dengan olahraga ini. Ada banyak lapisan-lapisan ingatan saya yang diisi oleh sesuatu yang ada kaitannya dengan sepakbola. 

Ia bisa berupa tivi hitam putih yang mengenalkan saya pada van Basten di Piala Eropa 1988, ia bisa berupa balsam yang sengaja saya pulaskan tipis dekat mata saya agar bisa melawan kantuk demi menonton Arena dan Juara yang menayangkan cuplikan pertandingan, ia bisa berupa halaman olahraga dri koran yang dibeli ayah, ia bisa sepercik darah yang menetes saat selangkangan saya yang belum kering usai disunat terkena hantaman bola plastik karena saya tak sabar untuk segera bergabung dengan teman-teman lain, ia bisa sejumlah poster yang saya gunting dari cover sebuah tabloid olahraga, ia bisa sehelai kostum nomer 10 yang dimiliki Ribut Waidi, ia bisa sepatu bola merk super-cup yang dibelikan ayah saat saya naik kelas lima, ia bisa selembar uang 10 ribu yang saya terima pertama kali sebagai honor bermain bola saa duduk di kelas 2 SMP, ia bisa ban kapten yang melekat di lengan kiri saya saat memperkuat kabupaten kelahiran di Piala Haornas, ia bisa seulas senyuman pacar kecil di kala SMA yang berdiri di sudut lapangan saat saya mencetak gol dalam pertandingan antar kelas usai ujian catur wulan, ia bisa sehelai karcis pertandingan primavera di Senayan saat saya masih duduk di awal-awal SMP, ia bisa sehelai kertas tanda bisa masuk perguruan tinggi negeri di Jogja yang saya terima tanpa tes.

Dan lain-lain. Et cetera. Dan sebagainya.

Lalu saya merasa tak lagi mampu bermain bola, tak cukup memadai untuk mendaki karir di dunia sepakbola: itulah saat di mana buku-buku mengambil alih kesibukan saya, jauh... ya... jauh sebelum saya kuliah.

Ada periode di mana buku dan bola bisa berdampingan dengan mesra, hingga akhirnya saya mesti memilih salah satu. Lalu saya memilih buku-buku, membacanya, dan... berwaktu-waktu kemudian: mulai belajar menulis, sampai akhirnya saya hidup dari kegiatan yang terakhir ini.

Sepakbola, tentu saja, tak pernah saya tinggalkan. Bedanya, jika dulu bola disentuh oleh kaki saya [terutama oleh kaki kiri], belakangan bola hanya disentuh oleh mata saya. Ya, inilah masa di mana saya hanya menikmati bola dalam posisi sebagai penonton. Saya masih rela begadang untuk menunggu satu pertandingan dari tim kesayangan, atau sekadar untuk memastikan apakah saya menang dalam satu pertaruhan kecil-kecilan atau tidak.

Ini menyenangkan, tentu saja. 

Secara memadai saya cukup tahu teknik-teknik dasar bermain bola, bagaimana mengontrol bola yang datang dengan deras, bagaimana mengendalikan bola yang datang dari ketinggian, bagaimana mengontrol bola dengan dada saat bola datang vertikal dan keras atau saat bola datang dari lengkungan ketinggian, bagaimana posisi dua kaki saat menghadapi pemain sayap yang menggiring bola dari garis tepi lapangan, juga tahu seperti apa rasanya berhadapan dengan teror penonton, bagaimana gemetarnya menghadapi pertandingan vital, juga sedikit banyak paham bagaimana caranya wasit bisa memihak lawan tanpa terlalu kentara sikapnya. Itu semua memudahkan saya saat menulis, karena --sedikit banyak-- saya juga tahu bagaimana caranya menulis, tahu cara mengutip, paham di mana harus mencari bahan, karena bahan-bahan yang terpenting itu kebanyakan sudah tersimpan di lapisan-lapisan ingatan saya sendiri.

Demikianlah, salah satu kisi-kisi dalam hidup saya. Kisi-kisi yang saya ringkas di atas, tampaknya sudah cukup menggambarkan bagaimana dan kenapa saya bisa menikmati menulis [perihal] sepakbola. Menulis [perihal] sepakbola bukan hanya membuat dua hobi saya bisa saling bertemu, tapi juga membuat masa silam [hari-hari dengan bola] dan masa kini [hari-hari dengan aktivitas menulis] saya bertemu dan saling bertegur sapa dengan mesra.    


Tag: menulis sepakbola

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

3-4-3 0 0
beruntunglah dikau. lantaran di luar sana banyak sekali penggemar bola yang tak bisa menulis dan enggan menulis. itu sebabnya bolaria kesulitan mencari penulis hihihi
melkisedek bola 0 0
3-4-3:

ayo dadi talent-scout, cak! oke oke oke?

: D
Klanjabriks 0 0
saya kurang PD untuk menulis disini, secara saya cuma suka beberapa pemain saja, dan cuman mengikut 1 klub saja, bermain bola pun sudah sangat jarang sekali, enakan kasih rating + komentar : D
ramaparasu 0 0
beruntunglah yang mengerti sepakbola karena juga 'mantan atlet' walaupun kecil-kecilan. jadi iri. saya suka nulis soal sepakbola tapi maennya basket. *sigh*

Silahkan login untuk memberikan pendapat