Drama Itu Bernama Sepakbola 1
Senin, 9 Nov '09 12:21
"Sepakbola adalah drama kehidupan, yang terjadi dalam hidup sangat bisa terjadi di sepakbola," ujar Pele ketus. Hari ini, di musim panas 1990 ia kembali menyaksikan Brasil, negerinya tersingkir dari kejuaraan. Sebuah partai sangat dramatis yang melibatkan Argentina sang juara bertahan dan Brasil si favorit. Brasil yang dimotori oleh Careca, Alemao dan Ricardo Gomez bermain sangat efektif ala tim-tim Eropa memborbardir Argentina yang praktis hanya mengandalkan kebintangan Sang Dewa, Diego Maradonna.
Tim Samba yang diunggulkan bukan saja unggul penguasaan bola, mereka secara efisien mampu membahayakan gawang Argentina yang dikawal bintang dadakan Sergio Goycoechea. Di partai yang kemudian membuat bangsa Brasil menangis dan beramai-ramai melakukan misa nasional di gereja-gereja inilah drama itu terjadi. Di tengah gelombang serangan yang luar biasa, di tengah marabahaya yang terus mengancam di kotak penalti mereka. Sang Dewa melakukan sesuatu yang memang hanya bisa dilakukan oleh dirinya, aksi individu sederhana yang dilanjutkan dengan sodoran magis pada Claudio Caniggia kompatriotnya di lini depan berakhir dengan satu-satunya gol di pertandingan itu.
Argentina hanya satu kali melakukan serangan, satu kali pula melepaskan tendangan kearah gawang Brasil dan pelakunya adalah Caniggia. "Hidup sering tidak adil, seperti itulah pertandingan hari ini," tangis Pele yang kemudian berhenti memfavoritkan timnya di edisi-edisi Piala Dunia selanjutnya. Jika hari itu bangsa Brasil menangis, sebaliknya di Argentina....Maradona semakin ditasbihkan sebagai Dewa, Tuhan nya sepakbola. Aksinya sekecil apapun selalu membuat jurang perbedaan pada hasil sebuah pertandingan.
Drama itu terus saya saksikan pada kejuaraan di level apapun. Kegembiraan dan kesedihan hanyalah bagian kecil dari pertunjukan drama itu. Segala yang kita bisa lihat dalam kehidupan terpancar di sepakbola. Wajah-wajah pemain SMA 1 Cianjur yang gagal lolos ke putaran final di Surabaya 14 November 2009 nanti bukanlah satu-satunya adegan terbaik yang muncul sepanjang kejuaraan tahunan Piala Coca-Cola di edisinya yang ke lima ini.
Ratapan kegagalan menunjukkan gairah kemenangan yang sangat besar. Hasrat untuk memenangkan pertandingan yang terpancar luar biasa dari mata anak-anak Cianjur ini terhentikan oleh drama adu penalti yang selalu disebut sebagai bagian paling tidak adil dari sepakbola "Dalam penalti, segala beban berada di pundak penendang, sementara penjaga gawang akan jauh lebih rileks," ujar Platini ketika timnya melaju ke semifinal Piala Dunia 1986 setelah memukul Brasil lewat drama adu penalti. "Kami sudah beraksi spektakuler selama kejuaraan, tapi nasib tidak berpihak pada kami," ujar Zico yang sebelum kekalahan itu telah mencetak 136 gol dari titik penalti.
"Adu penalti adalah adu nasib," tegas Sir Bobby Robson selepas timnya tersungkur di drama tos-tosan ini di semifinal Piala Dunia 1990. Tapi itulah sepakbola, karena di sana hanya akan ada satu pemenang, maka sepakbola-seperti juga hidup-tidak pernah peduli pada emosi yang menimpa para pelakunya. "Sebenarnya saya lebih suka SMA Budi Mulya yang jadi juara," ujar teman saya yang bekerja di Coca-Cola yang tentu saja tidak bisa memilih siapa yang harus lolos ke Surabaya.
Aksi Spartan tim SMA 17 menghadapi keunggulan kualitas anak-anak Budi Mulya tidak hanya memaksa kedua tim harus beradu penalti, tapi juga memaksa SMA Budi Mulya yang didukung penuh oleh ratusan pendukungnya harus tersingkir lewat drama adu nasib di titik penalti ini. "Sepakbola selalu memberi tempat pada keberuntungan, tapi seperti dalam hidup....keberuntungan tidak akan jatuh dari langit, mental pemenang, kematangan dan ketenangan punya porsi lebih di adu penalti....seperti hidup yang juga butuh kematangan dalam menghadapinya," jelas Pele, saat negerinya akhirnya kembali memenangkan Piala Dunia empat tahun kemudian di Amerika Serikat....dan kali ini lewat, Adu Penalti!!!
Tag: brasil, coca-cola, jogo bonito, Prestasi, Kesenangan
Terkait:
-
Paulo Costa Dari Rio
Senin, 19 Okt '09 10:17
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
3-4-3: Informatif
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat