Liga Super Indonesia: Rapor Awal 2
Kamis, 5 Nov '09 16:59
Liga Super Indonesia musim 2009/10 belum genap berjalan dua bulan. Artinya kalau mau melihat apakah ada perubahan positif tentu belum siginifikan. Saya terus terang nyaris tak pernah lagi menyaksikan sepakbola nasional di tv. Sekadar tips dari saya, melihat sepakbola Indonesia cuma enak dari stadion. Bisa merasakan atmosfir berbeda.
Tapi saya selalu mengamati dengan ketat LSI melalui berita. Untuk musim ini, ada beberapa catatan awal yang saya temukan.
1. Klub
Ada kesan setengah-setengah; ya profesional, ya amatir. Beberapa tim sangat serius untuk menjadi profesional, tapi masih menggantungkan harapan pada APBD dan memiliki pengurus berplat merah. Saya tahu sulitnya mencari dana operasional untuk sebuah klub, termasuk dari sponsor. Handycap-nya masih terlalu besar. Mulai dari ketidakmampuan membuat proposal yang pantas, sampai keengganan banyak perusahaan untuk mengeluarkan dana bagi aktivitas di bawah PSSI.
Klub juga belum berubah dalam menyikapi esensi sebuah kompetisi. Saya maklum karena peserta liga kebanyakan tim perserikatan, bukan klub murni. Pendekatan untuk membangun tim ala tarkam masih kentara. Lihat apa yang dilakukan oleh Persisam Samarinda. Klub juga tak mau mengandalkan pembinaan pemain muda yang bisa jadi investasi untuk masa depan. Tapi apa yang dibuat klub tak terlepas dari kebijakan Badan Liga Indonesia yang tak punya perencanaan kompetisi. Tahun ini ada kompetisi, apakah tahun depan berlanjut? Dan kapan dimulainya?
Sebagai catatan, liga-liga yang sudah mapan selalu punya jadwal kompetisi minimal untuk tiga tahun ke depan. Ini bagus untuk perencanaan keuangan, sasaran dan skuad klub di seluruh negeri.
2. Jadwal
Saya tak habis pikir mengapa BLI kelihatan sulit membuat jadwal yang serempak atau teratur konfigurasinya. Nyaris seluruh liga di dunia selalu dimainkan di hari Sabtu dan Minggu. Sebagian ada pula hari Jumat atau Senin. Ada pula konfigurasi tengah minggu, tetapi jumlah paketnya tak pernah lebih dari 4-5 minggu. Tapi di LSI, partai tengah minggu berjalan penuh dari awal hingga akhir musim.
Sebagai contoh, saya sertakan konfigurasi Bundesliga Jerman yang selalu sama setiap musimnya. Jumat malam (jam tujuh atau delapan waktu setempat) ada satu partai. Sabtu (biasanya serentak di sore hari atau paling malam jam 7) ada lima partai. Minggu dengan jam sama seperti hari Sabtu ada dua partai.
Bermain serempak dalam sepekan bagus untuk keadilan peserta. Bermain dengan konfigurasi per pekan, bukan dalam asumsi tiga hari sekali, bagus untuk pemulihan fisik pemain dan wasit. Lagi pula, memainkan partai tengah minggu tak baik untuk lingkungan kota karena Rabu atau Kamis adalah hari kerja. Jika harus dimainkan di tengah minggu, sebaiknya malam hari (after hours). Lagi pula, jadwal tengah minggu bisa dipakai untuk jadwal kompetisi sejenis Copa Indonesia atau regional seperti Liga Champions Asia.
Konon LSI tak memungkinkan jadwal di akhir pekan melulu karena mengantisipasi bengkaknya dana tim yang menjadi tamu. Konfigurasi jadwal tandang di LSI adalah dua kali beruntun di propinsi atau pulau yang sama. Klub tamu keberatan jika harus bermain seminggu sekali karena biaya operasional (akomodasi dan konsumsi) membengkak. Saya maklum, ini memang sulit. Tapi dalam kompetisi pro, semua peserta dianggap mampu, baik tim kecil maupun besar. Harus tega dan tegas!
3. Stadion
Lapangan masih sangat buruk. Tak jauh berbeda dengan lapangan tarkam. Perhatikan lapangan di Wamena, Malang, Lamongan, atau Makassar. Tapi ini jelas bukan salah klub semata. 99 persen stadion di Indonesia adalah milik pemda yang dibangun untuk menjaring massa dalam pilkada dan bahkan ada pula yang warisan Belanda. Klub hanya tenant.
Anehnya, klub juga milik pemda. Entah mengapa dana lebih banyak tersedot untuk membayar pemain asing dengan gaji mentereng (dan pakai uang APBD), ketimbang meningkatkan kualitas lapangan.
Saya juga menyayangkan kebijakan BLI yang membagikan satu mini van untuk seluruh klub mulai musim ini. Tak ada kebijakan (subsidi) seperti ini di kompetisi pro manapun. Akan lebih berarti bila alokasi dana mobil diarahkan kepada perbaikan stadion.
4. Wasit
Saya harus bilang 50-50; ada kesan membaik tetapi masih ada pula yang tak berubah. Kualitas wasit Indonesia jelas sangat minim. Tak kelihatan pendekatan persuasifnya. Tak jelas pula standar kinerjanya.
Wasit salah satu kebobrokan sepakbola nasional. Pembelian wasit adalah praktek sangat umum di sini. Bukti memang sulit diperoleh, tapi baunya sangat tajam. Persis seperti kasus korupsi.
Kinerja wasit membaik (semoga begitu) bila dilihat sudah ada beberapa tim tamu mampu meraih minimal satu poin di kandang lawan. PSPS Pekanbaru bisa seri di Malang. Arema justru bisa dua kali menang di Kalimantan.
Tapi ada pula yang tak berubah. Bontang FC jelas merugi karena kalah 0-1 dari tuan rumah Persijap Jepara. Padahal Bontang sempat mencetak gol sah, tapi dianulir wasit.
6. Pengelola Liga/BLI
Saya harus sedikit memberi kredit pada Badan Liga Indonesia (BLI). Ada kesan mereka ingin kompetisi menjadi wadah industri yang profesional. Semestinya, bila PSSI tak banyak ikut campur -- termasuk dengan alasan prerogatif ketua umumnya -- kompetisi pasti membaik. Djoko Driyono sebagai direktur kelihatan sekali ingin SLI menjadi profesional dan memanfaatkan potensinya menjadi sebuah industri. Namun dia seorang menjadi tak berdaya guna.
Tapi sosok Djoko masih punya kekurangan. Dia masih sering tampil di muka umum. Sebagai CEO, dia tak seharusnya selalu muncul dalam jumpa pers. Itu jarang dilakukan oleh bos liga di banyak negara, apalagi yang sudah mapan semacam Liga Premier Inggris. BLI memang masih seumur jagung. Masih banyak pekerjaan rumahnya.
Misalnya, tidak mendominasi papan iklan di dalam stadion. Jatah iklan di stadion harusnya diserahkan kepada klub, karena di situlah salah satu pemasukan mereka. Mempertegas penerapan aturan. Membuat jadwal yang komprehensif dengan segala konsekuensinya. Terakhir, jangan terlalu sering melakukan tindakan permisif terhadap hal yang terkait dengan klub peserta.
---
Saya selalu berharap kompetisi tertinggi Indonesia ini semakin baik. Jika LSI bisa baik dan benar, maka akan mudah untuk membuat landasan kompetisi nasional yang berbentuk kerucut. Kompetisi yang bagus adalah sarana untuk memiliki tim nasional yang bagus. Tanpa itu, nonsens!
Tag: Liga Super Indonesia

Komentar:
Tapi kalau ada live di TV saya 'selalu' hadir, dan siap 'bertengkar" dengan istri yang mau nonton sinetron.
Saya nggak tahu untuk sepak bola nasional saya selalu punya ghirah untuk nonton (ya di TV itu) , Bahkan seringkali tayangan EPL, LALIGA, atau LIGA ITALIA saya 'kalahkan' kalu kebetulan jam tanyangnya bentrok dengan Liga Indonesia.
saya nggak peduli seberapa lusuh nya 'buku' sepak bola kita itu, buku yang banyak orang bilang isinya nggak keruan, compang-camping, nggak ada prolog, plot, atau epilognya. mungkin saya naif but I LUV U FULL pertandingan Liga Indonesia...
Terus terang, saya ga tega menghujatnya karena bila di tv, mata ini seperti sudah terbiasa dgn sepakbola maju.
Makanya saya lebih suka nonton di stadion, seperti waktu saya masih tinggal di Malang. Atmosfirnya dapet, mas. Pemain ga kelihatan begonya, termasuk jika wasit salah ambil keputusan -- kecuali soal offside. Sebab di lapangan segalanya berlangsung cepat. Sementara di tv, kita akan membandingkannya dengan eropa yg di atas langit hehehe
Silahkan login untuk memberikan pendapat