Ada Yang Lebih Indah Dari Uang 5
Senin, 19 Okt '09 12:48
"Hanya 50 juta, apakah selisih nilai itu yang bisa membuatmu hengkang dari Persija? Kita punya cerita indah dan kami mencintaimu," ujar Danang Ismartani ketua umum Jakmania saat membujuk salah seorang bintang mereka agar tidak hengkang dari klub kesayangannya. Upaya yang sama konon pernah dilakukan oleh pendukung Liverpool saat legenda mereka Ian Rush menyeberang ke Juventus.
"What money can't buy?" adalah sebuah kalimat bijak yang kerap menghiasi rumah-rumah orang-orang yang ingin dirinya bisa bijak menghadapi godaan materi "A place but the house," adalah salah satunya "A body but not the soul," timpal lainnya....dan seterusnya. Uang memang nyaris bisa membeli segalanya, bahkan kadang kehormatanpun bisa diberikan atas nama uang, tapi apakah sepakbola juga bisa dibeli dengan uang?
Jawabannya ada diantara kata "Ya," dan "Tidak," Karena uang memang telah membeli segalanya dari sepakbola Eropa. Sepakbola Inggris 20 tahun lalu adalah sebuah tradisi penuh sejarah yang membuat mereka bangga dan merasa memiliki sebuah identitas besar bernama sepakbola. Sementara itu sepakbola Italia dengan barisan pemain asingnya sedang menjadi tontonan besar di penjuru dunia. Saat itu, nyaris semua pemain terbaik dunia berada disana, bahkan Ian Rush pun "tega" meninggalkan Liverpool demi guyuran Lira.
Didukung oleh fakta bahwa fanatisme selalu tidak mengenal nilai. FA lalu mengirim para ahli mereka untuk mencari model terbaik sebagai patokan menjalankan industri olahraga. Dunia marketing tidak mengenal Eropa sebagai kiblat berjualan, maka pergilah mereka ke Amerika Serikat, tempat dimana sampahpun bisa dijual bagai emas, karya-karya audiovisual bodoh bisa menjadi komoditi ekspor nomer 3 kita minati terus di bioskop-bioskop tanah air. "The land of dream!" ujar mereka yang terus datang ke negeri Paman Sam.
Di sanalah FA menemukan fakta bahwa MLB (Major League Baseball) adalah standar bisnis terbaik yang layak untuk ditiru. Inggris adalah negeri industri, dan seperti nenek moyang mereka yang sanggup menjadikan bahasa mereka menjadi bahasa perdagangan internasional, tetamu MLB ini cepat menyerap apa yang harus mereka kerjakan untuk bisa setara secara pemasaran dengan saudara-saudara sedarah mereka di Amerika.
Dibubarkanlah kelas berdiri untuk memberi kenyamanan bagi penonton, dibentuklah fans club untuk memberi gengsi sekaligus mengatur penjualan tiket, dipugarlah stadion demi stadion termasuk Stamford Bridge yang tadinya hanya memiliki 3 sisi dan tentu saja diperketat pulalah keamanan untuk menghapuskan hooliganisme dan fanatisme berlebihan. Satu-persatu klub Inggris berbenah, mereka yang memiliki nama besar dengan cepat merebut investor dan sanggup meraih penggemar baru.
Siapa rela mendukung Chelsea di masa silam? Hanya orang-orang kaya di kawasan Fulham Broadway dan sekitarnya. "Di masa lalu, kamilah penguasa kawasan ini," ujar James Clark, pencinta Fulham yang sampai hari ini masih terus setia duduk di sudut timur Craven Cottage . "Sepakbola adalah olahraga kaum pekerja, dan orang-orang kaya macam The Blues bukanlah pencinta sepakbola sebenarnya," jelas James pada saya suatu hari di sebuah restoran Cina di belakang kandang timnya.
Sayangnya Fulham tidak secepat Chelsea dalam berbenah, setelah mendatangkan para pemain top dari daratan macam Ruud Gullit, Gianfranco Zola, Franck Leboueuf, Roberto Di Matteo dll The Blues menjelma menjadi kekuatan yang tak hanya diperhitungkan sebagai sebuah tim sepakbola, tapi juga sebagai mesin uang. Chelsea semakin cepat berlari saat Roman Abramovich datang dan menjadikan tim itu benar-benar metropolis. Jumlah uangnya yang bisa jadi sama dengan tetes keringatnya membuat ia bisa melakukan apapun terhadap Chelsea.
Arsenal pun demikian, rumah mereka sangat klasik di Highbury. "Rumah yang membuat kami selalu datang bukan karena sepakbola, tapi karena Arsenal," ujar Joanne Ball dari London. Tapi "What money can't buy?" menjadi sebuah pertanyaan yang semakin klasik pada Arsenal, atas nama bisnis pula mereka "terpaksa" membangun stadion megah 200 meter dari Highbury. "Saya tak akan datang kesana!" tegas Tony yang merasa dirinya "dikhianati" oleh klubnya walau hatinya tetap Arsenal.
Di Manchester, Malcolm Glazer datang dan membeli Manchester United atas nama satu hal "Uang,". Orang Amerika yang tidak mengerti sepakbola ini telah menyakiti hati pencinta Manchester United sejati. Ia datang bukan dengan cinta, tapi bisnis karena sebagai pebisnis di bidang olahraga di negeri asalnya, Malcolm percaya bahwa sepakbola Eropa adalah ladang bisnis yang harus digarap luas.
Lalu hengkanglah ribuan (bahkan mungkin jutaan) pencinta Setan Merah. Mereka tak rela klub yang telah menjadi identitas mereka ini harus dikalahkan oleh kepentingan uang, dan terbentuklah FC United. "Datanglah ke kandang kami, kami sediakan pertandingan seharga 5 pound, fanatisme dan tentu saja nyanyian tanpa henti," ajak Matthew Highnett saat tahu saya datang ke kotanya untuk derby besar City vs United bukan untuk salah satu tim. "Manchester United is good football, but FC United is football....it's larger than life," tambahnya sembari mengajak saya bertukar syal miliknya dengan syal Persija yang saya bawa.
Inggris terus bebenah dan mengembangkan kepakan sayap bisnis olahraga mereka ke seluruh dunia. Percayalah, bahwa di Asia penonton Liga Inggris lewat televisi berjumlah jauh lebih banyak dibanding mereka yang menyaksikannya lewat televisi-televisi di Britania. "Salah satu tradisi penting yang telah dinodai oleh FA adalah jadwal pertandingan!!!" umpat Bryan (saya lupa nama belakangnya). Ia mengingatkan saya pada masa lalu saat seluruh pertandingan dimulai pada pukul 15.00 di hari Sabtu dan Minggu. "Kalian orang Asialah yang membuat kami harus memperkosa tradisi kami," tentu saja ia tidak kemudian menghantam saya dengan botol birnya, tapi malah menepuk pundak saya.
"Kalian sudah tidak memiliki pelatih Inggris, pemain bagus asli Inggris, apa kalian juga sudah tidak ingin punya kompetisi domestik," ejek Platini kala FA mencetuskan ide 1 pertandingan Liga di luar negeri. Ide yang menarik, namun konyol....karena sepakbola bukan sekedar permainan, tapi juga tradisi, budaya dan agama.
Tag: Uang, sepakbola eropa, andibachtiar yusuf, konsumerisme, malcolm glazer
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
3-4-3: Hattrick
-
kakilangit: Total Football
-
Der Kaiser: Hattrick
-
Klanjabriks: Total Football
-
entah1982: Informatif
Komentar:
Saya suka fulham dgn Craven Cottage-nya yang arsitektur luarnya seperti rumah biasa dan bukan stadion. saya suka karena dia masih setia dengan konsep keluarga, tiket 65 pounds untuk keluarga mini -- ayah, ibu, anak maksimal 2. Prestasi memang kemudian menjadi sulit datang, tapi seperti penutup sampean; sepakbola bukan cuma permainan, tapi tradisi, budaya dan agama.
Bundesliga itu gambaran orang jerman (masa kini) yg ga banyak bicara. rekor pendapatan hak siar juga selalu dimulai oleh bundesliga.
hehe...
tapi sungguh, sepakbola itu permainan yg paling keren dan menyenangkan di dunia..
Silahkan login untuk memberikan pendapat