Kejayaan Bola kita 4
Selasa, 6 Okt '09 01:31
Kejayaan negeri selalu paling mudah digambarkan dengan semangat perjuangan olahragawan. Apalagi sepakbola, walau Maradona pernah menjadi pemadat narkotika, tetap saja seantero Argentina selalu menganggapnya nabi.
Sepak bola adalah olahraga paling popular. Ada nafas negeri ini disana. Ada suara rakyat di sana,walau prestasinya memble. Ini juga jelas mengapa sepakbola selalu menjadi prioritas gelontoran dana APBD, sponsor atau apa saja. Mengapa tidak ke cabang angkat besi misalnya yang jelas jelas prestasinya sudah mendunia tetapi masih terseok seok dalam urusan dana pembinaan.
Poster heroik ini menjadi rangkaian kampanye menyambut kejuaraan sepakbola antar negara Asia tenggara. Majulah pahlawan bangsaku, demikian penggambaran pesannya. Masalah nanti keok itu urusan lain, yang penting ada momentum semangat persatuan yang bisa diteriakan dalam gemuruh sorak sorai penonton di Stadion Bung Karno.
Gemuruh itu memang beda. Stadion Sepak Bola yang megah menjadi saksi pergulatan kehebatan atau kemandulan prestasi sepakbola Indonesia. Kita melihat tangis Anjas Asmara yang terkulai karena gagal menceploskan bola dalam adu penalti melawan Korea Utara tahun 1976. Tinggal selangkah lagi menuju Olimpiade Montreal.
Saya selalu merindukan gempita atmosphere dalam stadion lingkar gelang pertama di dunia itu. Untuk sekejab kita lupa betapa mahalnya biaya hidup ini. Untuk sementara dalam ruang waktu 90 menit, kita tak pernah mempersoalkan ketidakadilan, korupsi atau skandal politik. Karena hidup hanya untuk bola.
Waktu saya kecil, saya sangat gembira jika diajak ayah menonton sepak bola di Stadion kebanggaan itu. Ia selalu membawa radio transistor kecil berwarna hitam. Sambil memandang di lapangan bercampur mendengarkan suara penyiar RRI. Siapa lagi kalau bukan Sambas.
Dari situ saya mengerti suara bariton Sambas yang begitu luar biasa membawa atmosfer dilapangan ke dalam siaran radio.
“ Berputar putar saudara saudara gerakan kaki Waskito,..melaju cepat, oper ke Andi Lala, dan ahhhhhhhhhhhhhhh..sayang sekali, bola melesat jauh saudara saudara….”
Tidak heran, jaman orang Arab masih belajar menendang bola. Kesebelasan nasional kita sudah bisa bermain head to head dengan klub juara Brazil Santos, yang diperkuat oleh legendanya, Pele.
Waktu itu jika ada pertandingan PSSI, membuat orang orang cepat pulang kantor, jalanan menjadi sepi.
Di warung warung kopi dan pojokan jalan, banyak orang berkerumun mendengar siaran radio dari Sambas. Sebelum pertandingan mereka semua sudah hapal nama nama pemain kesebelasan nasionalnya. Bahkan pemain cadangannya.
Sementara sekarang yang saya ingat hanya Bambang Pamungkas dan Ponaryo Astaman. Itupun karena mereka dipakai untuk iklan minuman energi.
Terakhir saya menonton sepak bola jamannya Ronny Patinasarany. Baru kembali menginjakan kaki di senayan, sewaktu Piala Asia kemarin. Ternyata atmosphere itu masih sama. Hampir seratus ribu penonton mengingatkan kejayaan persepakbolaan masa silam. Tak peduli walau akhirnya pemain PSSI yang staminanya melorot. Tak peduli walau akhirnya tersingkir.
Saya hanya tersenyum melihat anak lanangku yang saya ajak nonton saat itu ikut larut dalam sorak sorai yang membahana. Ia mungkin masih terlalu kecil untuk berdesak desakan disana. Tapi saya percaya ia menikmati suasana itu.
Tiba tiba saya teringat ayah saya. Siklus sejarah memang selalu berputar. Hanya saja kapan siklus kejayaan sepakbola kembali, masih menjadi pertanyaan.
Tag: PSSI, Anjas Asmara
Terkait:
-
Naturalisasi
Jumat, 23 Jul '10 14:54 -
Dua Cerita tentang Wiel Coerver
Rabu, 14 Jul '10 19:32 -
Surat Terbuka untuk Presiden Yudhoyono
Minggu, 11 Jul '10 15:56
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
didinu: Playmaker
-
garislembut: Total Football
-
entah1982: Informatif
-
Der Kaiser: Playmaker
-
moopy: Playmaker
-
Mas Antyo: Playmaker

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat